Kupandangi lagi langit yang sepi tanpa gemerlap bintang & bias remang rembulan, rasa dingin seakan membuatku beku dalam kesenyapan yang tiada menentu. Kuhanya bisa terdiam dalam himpitan pertanyaan yang berkecamuk diantara hati, lelah kuberkelana diantara cinta yang tiada pasti, letih kuberlari meraih mimpi yang tak kunjung tiba, sampai kapan kuharus menanti bidadari yang membawa keindahan surgawi. Malam yang sepi terpendar dalam kekelaman hati, hembus nafas terasa lamban mengalun dalam hitungan detik yang berlalu.
Sepinya malam perlahan merapat, buai mimpi seakan memanggil diantara hangatnya selimut. Lembar-lembar kertas putih terpuruk meratapi hunian sampah-sampah. Semua seakan tiada pernah mampu maknai dan wakili apa yang ada didiri dan hatiku saat ini.
Kenapa kala detak langkah terhenti, mulai ku resapi apa yang telah terjadi diantara detik yang berlalu, merenungi sekejap nuansa yang tertinggal dalam kenangannya.
Dalam gundah yang menyatu bayangan itu slalu hadir, lantunkan sayup malam, puitiskan rindu yang bersemi dalam hatiku, inginku memeluknnya dalam rengkuhan hatiku, inginku membelainya dalam kehangatan jiwaku, bersama merajut kasih, bersama mengukir keindahan diantara gemerlap bintang-bintang, dimana waktu yang ada seakan berlalu tanpa pernah mau mengerti akan keinginan hati .
Namun selalu ada tanya memecah sunyi dalam hatiku
Adakah semua laksana purnama yang begitu indah, lembut bagai temaram sinarnya dicakrawala semesta,
& Seandainya malam ini dapat kumiliki indah purnama itu dalam belai ketulusan gundah mungkin khan pergi menghapus ragu dihati,
Andai malam ini dapat kurasakan lembut selimut dalam belai kehangatan khan kurengkuh indah purnama itu dalam pelukku.
& Inginku selalu bersamanya dalam setiap hembus nafas yang kupunya, hadirkan seuntai harapan didalam seberkas mimpi.
Diantara semua; semoga hadirku ciptakan damai dihatimu, bersama harap tiada pernah ada luka dan kebencian yang membalut nuansa tulus ini, seperti damainya langit biru, selepas samudra dan seromantis syair diantara roman picisan para pujangga







Januari 30, 2009 pukul 11:35 am
Waah…lagi jatuh cinta bang?
Januari 30, 2009 pukul 12:10 pm
Dan biarkan mimpi2 itu membawaku ketempat para penyair dan para pujangga…..
Januari 30, 2009 pukul 5:18 pm
cinta… oh cinta…
deritanya memang tiada akhirnya hehehe :p
Januari 30, 2009 pukul 5:21 pm
wahhh… keren bgt kata2nya…
Januari 31, 2009 pukul 12:40 pm
Cieee…cieee…
romantis banget….!
Januari 31, 2009 pukul 7:00 pm
wah…
indah banget kak…
Februari 2, 2009 pukul 1:19 pm
“lelah kuberkelana diantara cinta yang tiada pasti”
wah pengelana cinta ya?!
nice post…
salam kenal…
Februari 4, 2009 pukul 4:47 pm
Cinta itu halus tak terindera akal,
Cinta itu bak edelweis di taman hati.
entah apa lagi bisa ku sebut cinta…..yang jelas Cinta adalah cinta….
mampir ke blog aku aja biar tau apa itu cinta
di http://rheifania.wordpress.com
Februari 8, 2009 pukul 3:32 pm
Semoga ketulusan cinta membawa kita ke jalan dimana kita seharusnya berada
Nikmatilah Cinta, setiap manis dan pahitnya