Paku dan Kemarahan

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah …

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah … Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini … di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada … DAN luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”

~Author Unknown

Sahabat…….

***

Memang, sebuah permintaan maaf bisa mengobati banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa semua itu tak akan ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali.

Cerita ini, adalah sebuah tamsil, sebuah amsal, sebuah ibarat dan sebuah wira-kisah. Tentang, berbuat kesalahan memang wajar, namun, ia juga mengajarkan, menghindarinya adalah hal lain yang bisa kita lakukan.

8 Tanggapan to “Paku dan Kemarahan”

  1. bimbimblitar Says:

    BEtul setuju bunaget..tuh….

    Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada … DAN luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …


    (departalahne): Untuk itu kita meski lebih banyak Belajar Lagi,untuk jadi yang Lebih Baik.😀

  2. Bang Kumis Says:

    mulai sekarang belilah obat penutup luka akibat paku yang aneh itu…wakakak…

    (departalahne): Gimana kalau ditutup pakai kumisnya bang kumis saja SETUJU?😀

  3. tegtitan Says:

    Tapi luka itu bisa menjadi indah bila kita bisa melihatnya dari sisi yang berbeda. Dari lubang-lubang yang sudah ada kita kreasi dengan hiasan-hiasan sehingga bisa terlihat indah. Maksudnya luka di hati yang berbekas itu tidak akan menimbulkan rasa sakit lagi bila kita melihatnya sebagai pelajaran dan pengalaman. Apalagi bila orang yang membuat luka tersebut telah minta maaf dan menjadi sohib yang setia kawan. (ini comment dari sudut pandang orang yang dilukai).
    Lain cerita kalau ketika kita memaafkannya ada kata-kata tambahan dalam hati “sekarang kamu saya maafkan, tapi lihat saja nanti kalau diulang lagi”. Inilah yang bahaya. Sebenarnya maafnya itu hanyalah dari bibir semata, bukan dari hati. Memaafkan dari hati sangat susah. Dan selama ini saya hanya mengenal satu orang bisa memaafkan dari hatinya yaitu Bpk. David Sembiring. Kapan ya saya bisa seperti itu. Memaafkan dari hati dan hidup dengan hati yang tenang dan bahagia.

    (departalahne):Memaafkan dengan tulus hati emang sulit,dan kita meski belajar lagi untuk itu;Karena semua Membuat hidup lebih indah tanpa beban,benci dan juga kemarahan.HADAPI DENGAN SENYUM .😀

  4. Elys Welt Says:

    pada kenyataannya banyak yg melakukannya😦

    (departalahne): Mungkin dari sana kita bisa sama-sama belajar lagi😀

  5. wewenk Says:

    kata-kata mungkin lebih buruk daripada luka fisik… luka akibat kata2 ibarat tukak yang tak kunjung sembuh, luka yang selalu dihinggapi lalat2 hijau…

    (departalahne):Mungkin begitulah kadang adanya,dan mari kita belajar bersama untuk hidup damai penuh senyum tanpa kemarahan.😀

  6. Farrel Says:

    Kayaknya saya pernah denger cerita seperti ini dulu dari guru saya….. Ehm, gpp dech. Itung2 mengingat beliau…😀

    (departalahne): Terima Kasih.😀

  7. srieka Says:

    Menghapus luka di hati memang lebih sulit daripada menghapus luka di kulit qt, namun luka di hati memberikan hikmah yg jauh lebih dalam untuk qt sendiri bila qt menyikapinya secara dewasa n bijaksana. Yg terpenting bagi q sich bukan menghapus luka tersebut tetapi belajar dari luka tersebut agar tidak melukai lagi🙂

    (departalahne): SIIIIP Setuju.😀

  8. oRiDo™ Says:

    forgiven but not forgotten…
    tapi gak ada salah nya melampiaskan kemarahan, asal pada tempatnya..😉

    (departahne):Siiiip,Trims dah Mampir😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: